Posted in All Of Me, Coretan Khayalan, Uncategorized

Sebuah Ungkapan(?)

a23b499d5e201eea22ba5c7533c53933
Sumber Pict 1

 

Mencintaimu adalah sebuah anugerah terindah

Saat hujan turun, aku mulai rindu saat – saat kita berada pada tempat yang sama

Memandang langit yang sama, dengan perasaan yang sama

Dan saat itu, kita saling berkeyakinan,  “semoga kita saling memiliki suatu saat nantii”

 

Namun, saat itu aku merasa bahwa kita tidak sejalan

Tidak mempunyai keyakinan yang sama

Namun, hatiku berusaha meyakinkan

Bahwa kamu adalah orang yang dikirimkan oleh Allah saat hujan datang.

 

Dan aku mulai merasa, saat itu aku punya harapan yang lebih banyak

Untuk bisa bersamanya lebih lama

Dan aku berharap saat itu, waktu bisa berhenti sejenak

Agar kita bisa bersama lebih lama

Diderasnya hujan, dan ditempat yang sama

Saat aku merasa kita saat itu begitu dekat

Meskipun, sebenarnya raga kita tak saling berdekatan.

– “Nurul Hayati”

 

 

66fde6c63444c382799f7745325d7338
Sumber Pict 2

Suatu hari, saat ku pandang kearah langit

Terbesit sebuah kisah

Tentang dua orang dimasa lalu

Entah, pihak satu masih mengingat atau tidak

Tapi yang jelas, pihak lainnya akan selalu mengingatnya.

 

Akan ku sampaikan, sebuah pesan dari salah satu pihak

“Terima kasih telah mengobati luka, meski pada akhirnya. Kau juga yang menciptakan luka itu.”

– “Rani Rofidah”

 

 

6f9d71f8101d298b2ad1cd730390773a.jpg
Sumber Pict 3

Sore itu kita duduk bersama

Kita sama sekali tidak saling mengenal

Dan akhirnya, kamu mulai berbalik badan

Dan menatap ke mataku

 

Seketika kau bertanya, “Pukul berapa sekarang?”

Kusebutkan yang kulihat pada jamku

Namun kau tersenyum seakan berterimakasih

Lalu kau menjawabku

“Waktu masih sama seperti tadi. Apa waktu berhenti tiap dihadapanmu ?”

-“Venesya Sari Lubis direvisi oleh Cantika D.A”

 

 

ebd507bec767fff489eecca99f03f210
Sumber Pict 4

Bahkan ketika rindu itu sakit

Namun selalu terulang

Terus terulang

Hingga hanya menyisahkan sesak

Bagaimana kabarmu, detik ini?

Bagaimana keadaanmu saat ini?

Lancangkah rindu ini menyapamu?

Bolehkah rindu ini merengkuhmu?

Tenang saja . . .

Hanya sebuah rindu

Tidak lebih. Karena memang tidak boleh lebih

Jaga dirimu

Selalu bahagia untukmu

Hingga suatu saat kita bertemu

Bertemu dalam kebahagiaan

Bersamaku atau sosok yang lain

-“Cantika Dyah Anggraeni”

 

 

27620a3ddfc6c285cc264dfb0ed68bc1
Sumber Pict 5

Kilasan kisah waktu itu

Membuatku kembali berpikir

Apa perasaan ini masih sama seperti dulu?

Atau sekedar sisa perasaan?

Yang sebenarnya masih mengharapkannya

Mengharapkan dia yang bahkan tak pernah berhasil ku raih

 

Dia tak pernah salah

Dia tak pernah menyakitiku

Karena sampai saat ini

Aku yang terus menyakiti diriku sendiri

Dengan sejuta pengharapan semu yang tak pernah terwujud

 

Salahkan hatiku, yang tak pernah merasa tergores

Melihat kebahagiaannya bersama orang lain

Salahkan egoku, yang terus berusaha menyukainya

Meski banyak luka yang digoresnya

-“Erniynt”

 

 

Advertisements
Posted in All Of Me, Uncategorized

Mungkinkah Bahagia?

09 Juni 2022

 

Hari ini, usiaku tepat menginjak 24 tahun. Tentu saja, sudah tak bisa dikatakan muda lagi. 4 tahun yang lalu, aku menyelesaikan pendidikan S1 ku disebuah Perguruan Tinggi Negeri di daerahku. Dan kini aku sudah bekerja, menjadi pengajar di sebuah sekolah Negeri tempat dulu aku menempuh pendidikan Sekolah Menengah Atas.

Sudah begitu banyak hal yang terjadi di hidupku hingga saat ini. Jatuh bangun untuk mendapat gelar sarjana sudah cukup memuakkan. Ironisnya, satu hal yang tak pernah berbeda dari tahun ke tahun. Yaitu, kisah percintaanku. Dulu, ketika aku sering ditanya kapan akan mulai serius dan mencoba yang namanya “Ta’aruf”, aku hanya mampu menjawabnya dengan sebuah anggukan kecil dan tersenyum simpul.

Tak ada jawaban yang ingin ku lontarkan, yang pasti keinginan itu jelas ada. Namun, lagi – lagi. Aku masih berada di tahun sebelum, sebelum, dan sebelumnya. Menjadi orang yang tak mampu melangkah, dan terus menjadi orang yang selalu melihat masa lalu saat itu.

Bicara soal cinta. Aku masih terjebak dalam ilusi yang ku buat seorang diri. Ilusi, akan hidup bahagia bersamanya. Yah, bersamanya yang menjadi cinta pertamaku. Lagi – lagi aku hanya bisa tertawa. Sebenarnya aku tak pernah percaya, bahwa cinta pertama itu akan berhasil. Namun, sekeras apapun aku melawan perasaan itu, tetap saja air mata itu tak bisa terbendungkan.

Dan tepat hari ini, usiaku bertambah, dan hidupku semakin berkurang. Semoga Ayah dan Ibu bersabar dalam penantian bahwa anak sulungnya ini belum juga ingin memulai suatu hubungan. Bukan tak ingin, bukan pula tak mampu. Hanya saja masih berada dijalan penantian, entah hingga kapan. Karena “Aku percaya, sesungguhnya Allah selalu memiliki skenario terindah untuk hamba-Nya. Kita hanya perlu bersabar dan ikhlas dalam penantian.” (Kutipan by Post : Seseorang Itu)

Seperti tahun sebelumnya, hari ini sama membosankannya. Tak ada yang istimewa, bahkan semua terlihat tak peduli, entah orang rumah (Ayah, Ibu, kedua adek), di kantorpun juga tak kalah membosankannya. Amy, sahabat karibku dari kelas 2 SD, sedang sibuk – sibuknya bergabung dalam sebuah proyek besar, entah proyek apa namanya.

Tak lama kemudian, terdengar seseorang mengetuk pintu rumahku. Pelan, namun aku masih mendengarnya. Aku keluar dengan masih mengenakan pakaian kerjaku. Rumahku masih sama, tak ada yang berubah. Masih rumah sederhana yang berada di gang kecil yang jalannya berlika – liku, tak kalah rumitnya dengan perjalananku selama ini 😀

And than, aku benar – benar terkejut dengan apa yang sedang aku lihat. Dia berdiri kokoh dengan senyum hangat yang tak pernah kulupakan. Senyum yang mampu membuat hatiku menghangat, dan seakan menenangkan. Dia masih dengan posisinya, dan aku pun masih dengan posisi terkejutku.

“Assalamulaikum,” ucapnya.

Katakan aku berlebihan. Berkedip pun susah untuk kulakukan. Dia lagi – lagi tersenyum, apa aku seaneh itu(?) Dia maju selangkah, di ikuti dengan langkahku yang mundur menjauhinya. Terlihat sebuah kebingungan di wajahnya. “Tak ada siapa – siapa dirumah, mungkin kita bisa tetap disini,” sanggahku, tak ingin dia berpikir yang tidak – tidak.

Hanya anggukan yang kuterima darinya, yang menandakan ia mengerti maksudku. Kami duduk dibangku teras rumah. Saling berhadapan. Lama. Kami saling berpikir. Dan akulah yang paling berpikir keras disini. ‘Sebenarnya apa yang terjadi???’

“Mau ngantar undangan nikah ya?” tanyaku dengan kakunya.

Dia tak menjawab, aku masih dengan posisiku yang tak mampu untuk menatapnya. Aku hanya bisa melihat, dia terus meremas tangannya dalam tundukku. “Apa yang sedang dia pikirkan?,” benakku.

“Kalau dihitung – hitung, sudah 7 tahun ya, terakhir kali kita ketemu. Dan itu masih waktu maba banget,” kekehku.

Dia memang bukan orang yang suka basa – basi, dan akan memulai pembicaraan lebih dulu. Dia juga bukan type cowok yang suka mengoceh sana – sini. Tapi, yang paling aku ingat ketika awal masuk SMA, dia sedikit berubah dari yang ku tahu. Dia mulai menjalin kasih dengan seorang cewek – cewek cantik semasa SMA dulu. Dan itu cukup memilukan buatku, cukup menyakitkan.

“Duh, kok malah diem mulu sih. Kalau gitu aku buatin minum dulu ya,” cercahku, sedikit kesal sebenarnya.

Dia tiba – tiba berdiri, dan berhasil menghentikan niatku untuk meninggalkannya sebentar. “Ini,” ucapnya, dia menyodorkan sebuah kotak buludru kecil berwarna merah.

Tak lama ia membuka kotak tersebut, hingga terlihatlah sepasang cincin emas putih. Sederhana, namun sangat cantik. Aku masih bingung, dan tak mampu untuk berkata – kata. “Kamu suka?,” tanyanya.

cincin-emas-putih-ep219 (2)

( Sumber Gambar : Cincin Cantik Untuk Hari yang Indah)

Aku tersenyum, “Cincinnya cantik. Siapapun yang nantinya kamu kasih, pasti suka sama cincin itu.”

“Baguslah, karena cincin ini untuk kamu,” ucapnya.

Belum aku menjawab dan bertanya atas kebingunganku, “Besok aku dan keluarga aku, akan datang. Aku ingin melamar kamu menjadi teman, sahabat, sekaligus pasangan aku,” ucapnya mantap tanpa terbata sekalipun.

Lagi – lagi aku terus berkedip tak percaya, “Apa jangan – jangan aku mimpi ya?”

“Dim, bukannya kamu sama Indri? Kok malah tiba – tiba gini? Aku masih ga ngerti, dan aku ga ingin menjadi perusak hubungan orang lain,” sanggahku.

“Aku dan Indri sudah putus sekitar 4 tahun yang lalu, tepat seminggu sebelum kamu wisuda. Saat itu juga aku datang ke wisuda kamu, tapi aku cuma berani lihat kamu dari jauh. Aku juga tahu, sekarang kamu ngajar di SMA kita dulu. Aku juga tahu, sampai sekarang kamu belum mau menikah, karena nunggu aku kan?”

Mendengar kalimat terakhir itu, membuatku tersedak. Dasar bocah!!!

Namun, logika ku masih bisa mengambil alih pikiranku. “Tapi, atas dasar apa semua ini? Oke, seminggu sebelum aku wisuda kamu putus dari Indri. Tapi, untuk apa kamu ke wisuda aku?”

“Kamu dengan tiba-tiba, nyari aku gitu? Dan semudah itu kamu ngelupain Indri?”

Dimas masih berdiam diri, entah dia ingin aku meluapkan semua kebingunganku atas dirinya atau bagaimana.

“Aku bimbang, Ra,” ucapnya lirih.

“Aku benar-benar bingung saat itu. Indri terus memaksa agar aku melamar dia. Hubungan kami, memang dalam status pacaran. Namun, kamu tahu sendiri aku yang begitu dingin, aku yang tak begitu mementingkan orang lain. Dan pada akhirnya aku Salat Istikharah untuk meminta petunjuk dari semua keraguanku.”

“Dan kamu tahu, apa yang aku dapat?”

Aku menggeleng lemah, dan masih fokus mendengarkan setiap kalimat yang ia ucapkan. “Kamu hadir dengan senyum indah yang kamu miliki, kamu meraih tanganku dan menarikku ke kehidupanmu.”

“Kenapa aku datang ke acara wisuda mu pun, itu benar-benar penuh pertimbangan. Dan aku hanya mampu melihatmu dari jauh. Dan akhirnya aku butuh waktu 4 tahun untuk memberanikan diri menemui kamu. Maaf!” dia mengakhiri ucapannya dengan menunjuk lemah, menunjukkan rasa bersalah yang tak bisa di bilang biasa saja.

Aku terduduk lemas. Memandang sepasang cincin yang masih berada dalam kotak perhiasan ditangannya. Cantik. Dan pada akhirnya aku membayangkan cincin itu berada di jari manisku.

Air mataku tak terbendungkan lagi. Setetes demi setetes air mataku bercucuran membasahi pipi. Dan akhirnya tangisku pecah. “Loh, loh, Ra, kok malah nangis gini sih?”

“Aku bahagia Dim! Bayangin kalau kamu jadi nikah sama Indri, aku harus gimana?” ucapku ditengah tangisku, seperti anak kecil yang kehilangan lollipopnya.

Dimas terkekeh, dan menggeleng, “Ya kalau itu terjadi, kamu harus datang sebagai tamu Ra bersama Amy.” Dan dia berhasil membuat tangisku semakin menjadi.

Dimas masih tersenyum diseberangku. Senyumnya benar-benar menenangkanku. Seakan semua beban yang ku tanggung selama ini jatuh bersama air mataku. Tangisku meredah, bersamaan dengan terlontarnya ucapan itu, “Maaf karena terlambat. Ah, salah,” sanggahnya sendiri.

“Maaf karena aku benar-benar terlambat menyadarinya. Aku sayang sama kamu Ra.”

Mendengar kalimat itu, pada akhirnya aku tersenyum bahagia. Aku tak bisa membohongi diriku sendiri, yang terlewat bahagia. Bahkan hanya dengan kehadirannya disini.

Karena pada dasarnya, aku sangat mencintainya.

“Bisa diulang sekali lagi?” tanyaku, diiringi cengiran nakal dariku.

“Tak ada pengulangan, karena aku hanya mengucapkan itu satu kali saja. Kalau kamu ga dengar, itu salah kamu.”

“Hah? Satu kali untuk selamanya? Yang benar saja!!!”

 

 

Continue reading “Mungkinkah Bahagia?”

Posted in All Of Me, Uncategorized

Seseorang Itu

Aku tak tahu, apa aku pantas untuk mengatakan ini. Namun, rasa kagum ini tak bisa diungkapkan bahkan dengan kata sekalipun.

Sosok sederhana itu, mampu membuat siapa saja menerimanya. Dia tak tampan, bahkan tak dapat disandingkan dengan pria-pria tampan yang menjadi sosok hebat di luar sana. Namun, entah dengan apa. Dia mampu mengambil hati siapa saja yang melihatnya. Sikap tegas yang dimilikinya. Dia mampu, bahkan di akui kepemimpinannya. Dia terampil atas apa saja yang menjadi tanggung jawabnya.

Pria bersenyum manis, yang selalu menjaga pandangannya, yang selalu berada di jalan hijrahnya. Sosok keras kepala yang sangat perfeksionis. Namun, lembut hatinya pada lawan jenisnya. Dia bisa menempatkan dirinya, dengan siapa ia berbicara.

Seseorang itu. Dirinya. Ya, dirinya yang mengisahkan banyak hal. Banyak angan-angan. Namun, semua terasa seperti sebuah angan tanpa perwujudan. Ingin ku bertahan, diantara ego ingin memiliki dan rasa pesimis yang menggebu-gebu.

Dia dengan segala kerendahan hatinya. Akan menjadi jodoh seseorang diluar sana yang telah menantinya.

Aku percaya, sesungguhnya Allah selalu memiliki skenario terindah untuk hamba-Nya. Kita hanya perlu bersabar dan ikhlas dalam penantian. Bersyukur atas semua kebaikan dan ujian yang Allah berikan pada kita. Kita hanya perlu menjadi hamba-Nya yang taat.

Kata orang-orang, hal yang paling indah adalah ketika dua orang saling rindu, namun tidak berkomunikasi, tetapi keduanya saling mendoakan di dalam sujudnya masing-masing. Karena mendoakan adalah cara mencintai paling rahasia.

Setiap orang pasti menginginkan sosok yang baik bagi dirinya. Apalagi bagi kita yang pernah memberikan hati kita kepada orang lain, namun justru disakiti dalam penantian panjang yang tak berujung. Hingga rasanya seperti tak dihargai, apa yang dirasakan hati ini. Tentu kita tak ingin hal seperti itu terulang lagi, dan kembali menyayat-nyayat hati ini. Kita tak ingin lagi berurusan dengan rasa kecewa karena patah hati.

Kemarin, mungkin kita menjadi sosok yang dibenci Allah. Menjadi sosok yang hilang arah, dan terus melakukan kesalahan. Namun, mungkin kita sekarang hanya bisa berdoa sambil memantaskan diri. Berharap sosok yang baik itu akan jadi jodoh kita.

“Bukankah semua orang masih punya kesempatan untuk berubah? Ya setelah kita mau berubah, biarlah Allah yang memberikan jawaban-Nya dengan mengirimkan sosok pilihan-Nya untuk kita.”

Jika kita ingin dapatkan jodoh yang baik, dan yang baik itu adalah dirinya. Mungkin dengan tersenyum kita bisa katakan padanya.

“Hai kamu, jadilah orang yang baik ya. Jangan lupa, pilihlah orang yang baik pula.”

Tempat terjauh, 17 Februari 2018.

Posted in All Of Me, Uncategorized

Puisi Lirih Untukmu

Kutuliskan puisi ini untuk mengingatmu

Bahwa Sudah banyak musim

Sudah banyak tahun

Sudah banyak hal yang kau lalui

Tapi aku masih tetap disini

Ingin berkata kuingin kau bahagia

Tapi nyatanya kuingin kau disini

Terus berpikir untuk menghakhirinya

Terus teguh untuk melupakan

Namun nyatanya semakin membuatku bertahan

Terus memanipulasi rasa

Namun nyatanya rasa ini terus ada

Entah sampai kapan ingin kuingkari hati ini

Entah sampai kapan kuberpaku pada hal bodoh ini

Terlalu bodoh ku memandang dirimu saat ini

Melihat kau bahagia, tersenyum dan tertawa pada kasihmu

Seakan menusuk tulang cinta tak terbalas

terbias tak berbekas

manakala bibir tak dapat berucap

Cinta berhenti tak dapat berbalas

Masih tetap kugurau dirimu saat kita bertemu

Namun, tidakkah kau sadar dibalik gurauan ku menyimpan lirih

Bahkan kau tau, kita jarang bersapa temu

Namun, kenapa perasaan ini tetap menggebu

Hanya menghasilkan lelah hati

Bertahan menjaga cinta ini

Mencintaimu tanpa ada balasan

Sakit hatiku tak pernah kau hiraukan

Ego kah aku pada diriku sendiri

Ego kah aku karena tetap bertahan tanpa berkata sepatahpun

Ya, mungkin aku terlalu menyiksa diri

Bertahan. Namun, tak pernah mengungkapkan

Selalu menganggap mencintaimu dalam diam

Sebuah diam yang tak berujung

Hingga pada akhirnya kusadar

Kuhanya seorang pengecut yang berharap indah namun tak berulah

Continue reading “Puisi Lirih Untukmu”

Posted in All Of Me

Cuap-Cuap [V] – Sad :'(

Seberapa seringnya kata nasehat yang selalu ia utarakan pada kami, hal itulah yang paling kami rindukan. Hal itulah yang paling menggambarkan, sebagaimana sikap cuek dan dinginnya seorang Ayah pada anaknya, jauh tanpa kita sadari beliau sosok orang yang paling mengkhawatirkan kita, yang paling mengerti kita tanpa ia utarakan dengan seringnya.

Di balik sosok ibu yang luar biasa, sosok Ayah yang hebat tak mungkin sirna di hidupku. Ayah sosok orang yang paling bersahaja, sosok orang yang paling mengerti diriku.

Ayah selalu mengkhawatirkan anaknya dimanapun, kapanpun ia berada. Dibalik sosok ibu yang selalu mengingatkan kita untuk makan, ada Ayah yang selalu bertanya lebih dulu.

Ayah yang tak pernah mau anak gadisnya berteman dengan laki-laki pun memiliki alasan penting. Ia tak ingin anaknya terbuai dengan hirup pikuk duniawi. Pergaulan bebas yang tak senonoh.

Ayah…

Mungkin tak ada hal yang bisa kulakukan untuk membalas semua perhatian, kasih sayang, jasa dan juga rasa cinta yang kau miliki untukku.

Mungkin satu kata sayang tak bisa menggambarkan bagaimana rasa ini begitu besar pada Ayah. Namun, rasa gengsi yang begitu besar itu pula yang membuat anakmu ini enggan untuk mengungkapkannya.

Ayah…

Mungkin aku belum bisa menjadi anak gadis yang membanggakan, yang satu-satunya ayah miliki.

Maaf kan putrimu ini, yang terlalu banyak memiliki kekurangan dan banyak membuat ayah selalu marah. Membuat ayah selalu kecewa dan pusing.

Entah, apa yang terjadi pada hidupku jika ayah tak pernah hadir. Jika aku harus memilih, aku tak pernah ingin merasakan ditinggalkan atau pun meninggalkan. Karena aku tak sanggup, bahkan membayangkannya pun aku tak bisa, ayah.

Jika bisa dan Allah berkenan, aku ingin ayah yang membawa jasadku ketempat peristirahatan terakhirku.

Ayah…

Izinkan putrimu ini merasakan kebahagiaan dengan melihat senyummu yang memang aku yang menjadi alasannya. Izinkan putrimu ini membuat ayah dan ibu bahagia terlebih dahulu.

Teruntuk Ayahku tercinta..

Aku menyayangimu karena Allah~

Samarinda, 11 Februari 2017

Posted in All Of Me

Cuap-Cuap [II] : Cinta Itu Kamu…

Cinta bagaikan secangkir kopi tanpa gula. Apabila ia tidak diberi sentuhan gula maka pahitlah rasanya. Namun sebaliknya apabila ia diberikan sentuhan gula maka manislah rasanya.

Hidup tanpa cinta maka terasa hampa dan hambar. Bagaikan roda yang enggan untuk dikayuh, jantung seakan berhenti untuk berdenyut dan pikiranpun tak kunjung berarah.

-Berkah Khair-

Sampai saat ini pun aku masih bertanya-tanya apa arti cinta sebenarnya. Aku tak pernah mengaggap cinta itu salah. Namun satu hal yang tak pernah ku inginkan dari cinta. Cinta hanya bisa membuat orang-orang bersedih. Jika cinta itu membahagiakan, bisakah cinta melakukan hal itu untuk selamanya?

Bisakah cinta selalu membahagiakan orang-orang bukan hanya di awal-awal saja. Namun, seterusnya? Saat sepasang kekasih mantap untuk menjalin hubungan, bisakah keduanya saling berbahagia untuk seterusnya tanpa saling menyakiti? Bisakah mereka berdua memegang janji yang telah mereka buat sendiri?

Seseorang akan bahagia dan tak merasakan sakit, jika mereka sendiri tidak saling menyakiti. Namun, apa itu juga bisa menjadi jaminan?

Kehidupan tak selamanya indah, hidup yang sebenarnya jika kita sudah merasakan apa itu bahagia, kesedihan, menangis, tertawa, marah, benci, sayang, dan sebagainya. Seseorang yang terlahir di dunia ini tak ada yang sempurna, begitu pula hidup ini.

Mungkin hari ini kita bisa merasakan kebahagiaan, namun besok?

Kebahagiaan bukanlah hal yang kekal, kebahagiaan hanya datang saat kita bisa mengukir kebahagiaan itu sendiri.

Saat pertalian hati mulai terajut, maka kita pun juga harus bersiap akan menyisi hari dengan berbalut aneka rasa : tawa, tangis, gelish, rindu dan sebagainya. Dan berbagai rasa itu tak menuai apa-apa.

Saat pertalian harus putus di tengah perjalanannya, rasa yang tertinggal cuma pedih belaka. Bahagia hanya jadi satu kata yang dengan megah terapung dalam barisan awan yang memutih dan berdiri dengan pongahnya di kaki-kaki langit sana.

Jika memang benar cinta sesederhana seperti yang aku yakini, mestinya setiap manusia bisa mengunyah dan menelannya dalam-dalam. karena aku percaya, setiap manusia di karuniai ‘rasa’ yang hidup bersama kemegahannya.

“Aku adalah kunang-kunang.

Dalam gelap aku terbang, dalam gelap aku terang.

Dan jadilah kau senja. Karena gelap kau ada, karena gelap kau indah.

Aku hanyalah kunang-kunang dan engkau hanyalah senja.

Saat gelap kita berbagi. Saat gelap kita abadi.

-Moammar Emka

Jika memang cinta adalah harapan, aku hanya bisa berucap sederhana…

“Adalah cinta yang menyinari aku.

Adalah asa yang berjalan bersamaku.

Adalah engkau yang datang bersama mereka untuk aku.

-Moammar Emka

Semestinya cinta tidak butuh apa-apa

biarkan saja ia mengalir tanpa syarat ini dan itu

tanpa harus ini dan itu…

Kepada Hatimu yang Nantinya Bukan Untukku

Jika mencintaimu adalah sebuah kesalahan, mungkin aku harus berhenti. Namun, kau bukanlah sebuah sesal bagiku. Kau telah berhasil menjadi bahagia yang hadir di satu cerita hidupku yang indah. Di satu titik cerita itu ada dirimu yang berada di sisiku, melukis kebahagiaan yang tak ingin ku lewatkan.

Detik, menit, jam, dan hari terus kita lewati bersama. Bersama dalam satu hubungan yang kita tahu akan berakhir. Jika kau tanya perasaan apa yang kurasakan.  Sakit. Itulah yang ku rasakan dari awal hingga hari ini. Menjadi sosok orang yang pernah bahagia bersamamu sudah cukup membuatku bahagia.

Kita adalah dua manusia biasa yang minim kuasa. Apalagi, jika urusannya soal perasaan dan cinta. Setelah sebuah pertemuan yang tak disangka-sangka, aku pun tak pernah dengan sengaja mengijinkan diriku jatuh cinta. Ah, jatuh cinta itu seperti mendapat keberuntungan – kamu menang hadiah tanpa harus repot-repot mengirim undian.

Kadang otakku tak berhenti memutar berbagai kemungkinan. Aku bertanya sejauh mana kita sanggup bertahan. Aku seperti pasien kanker yang berburu dengan waktu. Sadar diri atas keadaan, sungguh –kapanpun aku siap kehilangan.

Bukan semata-mata soal keyakinan kita yang beda, perkara cinta itu sendiri pun masih terlalu abstrak untuk diterima. Cinta bisa menawarkan dua hal yang berlawanan secara bersamaan; memanjakan dengan harapan, tapi menyiksa dengan kecemasan.

Seperti katamu, diriku terlalu drama. Hingga sampai saat ini pun aku berpikir hanya dirikulah yang merasa seperti ini. Dan seperti yang kau tahu, seorang perempuan begitu rapuh.

Entah kenapa, perempuan sepertinya terlalu ringan meneteskan air mata. Aku terlalu rapuh. Begitu mudah diombang-ambingkan perasaan, tak bisa dengan tangguh mengandalkan logika.

Untuk dirimu yang suatu saat nanti bukan untukku lagi. Aku hanya bisa mendoakan yang terbaik dan kebahagiaan untuk yang menjadi satu orang yang berarti di kehidupan cinta pertamaku 🙂