Posted in All Of Me

Cuap-Cuap [IV] – The Day…

Samarinda, 28 Januari 2017

Dan…

Finally, hari yang tak di inginkan itu ternyata hari ini.

Tak tahu kenapa, sekilas waktu berhenti saat itu dan membuatku hanya bisa terdiam. Hanya untuk memikirkan kata apa yang bisa membuatku terlihat tegar dan tak begitu menyedihkan untuknya.

Hari ini tepat kita mengakhiri hubungan yang memang tak tentu ini, dan tepat hari ini pula begitu banyak rasa sakit yang kurasakan. Mungkin sudah sangat terlambat, tapi aku masih ingin mengucapkannya, “Maaf, tanpa sengaja aku sudah menyayangimu!”

Air mata menyakitkan. Ini hal pertama yang kurasakan. Kisah cinta pertamaku yang berakhir dengan sesosok laki-laki yang berbeda keyakinan denganku. Aku menyayanginya karena ia mampu menjadi sosok teman dan juga kakak yang baik.

Ketika hari-hari air mata berakhir
Ketika hari-hari kerinduan berakhir
Akankah hal itu menjadi lebih baik? Apakah aku bisa tersenyum?

Lagi-lagi aku berucap, aku tak akan pernah menyalahkan hatiku yang tanpa sengaja menjatuhkan hati padamu. Bahkan, tak pernah terlintas sebuah sesalku ketika mulai mengenalmu. Karena bagiku, kau adalah pengalaman dan pelajaran baru di hidupku.

Mulai esok dan seterusnya, mungkin tak ada lagi alasanku untuk tersenyum hanya sekedar menerima pesanmu. Apa aku masih kuat hanya untuk mengukir sesimpul senyuman di hadapanmu?

Aku takut aku bisa saja menjadi perempuan rapuh saat berdiri di hadapanmu. Aku takut bisa kapan saja kembali menangisi dirimu. Padahal, kau tak pernah suka melihatku menangis. “Jangan nangis dek, kamu jelek kalau nangis!” Itu yang pernah kamu bilang padaku.

Dan lagi-lagi mengingat hal lalu, mampu membuatku tersenyum dalam tangis seperti ini. Ya, kau bisa menjadi alasanku untuk tersenyum dan ironisnya disaat yang bersamaan pun kau bisa menjadi alasanku untuk menangis.

Mungkin hari ini merupakan awal, aku harus  mulai belajar melupakanmu. Mungkin ini saatnya juga aku memilih untuk belajar menjadi teman dan juga menjadi adik tingkat yang baik untukmu. Meski kenangan tentangmu yang tak begitu lama kemarin tak mudah kuhapuskan, biarlah semua membusuk bersama luka yang hidup dalam kesia-siaan. Tapi aku akan tetap setia menjadi tiang dan jembatan tanpa sebab, untukmu. Setidaknya aku berharap yang terbaik untukmu, dan bahagia akan menjemputmu kelak.

Semua memang telah berakhir!

Terpuruk kecewa, mengucap selamat tinggal pada bahagia yang dulu sempat menghampiriku walau sesaat, dan itu pun juga karenamu.

Tak pernah menyangka bahwa kita bisa menjadi alasan orang merasakan keirian. Mereka melihat kita dari sudut pandang mereka, tidak dari sudut pandang kita. Yang mereka lihat, hubungan ini baik-baik saja tanpa masalah. Namun, sebenarnya tidak. Justru, hanya satu masalah yang paling besar dalam suatu hubungan. Itu adalah keyakinan. Adalah keyakinan yang membuat seseorang berbeda.

Kamulah yang mengajarkan aku indahnya jatuh cinta, sekarang kamu juga yang mengajarkan aku perihnya rasa patah hati. Namun, itu memang resiko dan konsekuensi yang akan aku terima bagaimanapun caranya.

Aku berusaha untuk ikhlas setelah kehilangan dan berusaha untuk slalu tersenyum dari rasa sakit. Ikhlas bukan berarti pasrah dalam menerima, tetapi ikhlas adalah suatu kekuatan yang besar untuk berusaha mendapatkan yang terbaik.

Terima kasih karena telah hadir di waktu singkat kemarin, memberi kebahagiaan, pelajaran dan juga arti memiliki seorang kakak. Berakhir bukan berarti melupakan, karena itu aku tak ingin melupakan apa yang telah kita lalui kemarin. Karena masa lalu adalah guru terbaik  di dunia ini. I love you for the last~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s